A. Defenisi Remaja
Masa remaja adalah masa di mana seseorang membentuk atau mulai membangun siapa dirinya atau jati dirinya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diuraikan pengertian remaja sebagai berikut:
re·ma·ja 1 a mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kawin:, bukan kanak-kanak lagi; 2 a muda; 3 n pemuda:
sebetulnya remaja sulit didefenisikan secara mutlak. Oleh karena itu dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandang antara lain menurut hukum, PBB, dan pengertian remaja menurut pandangan masyarakat Indonesia
1. remaja menurut hukum
dalam hubungannya dengan hokum, tampaknya hanya Undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep remaja walaupun tidak scara teerbuka. Usia minimal untuk perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita, dan 19 tahun untuk pria (pasal 37 Undang-Undang No: 1/1974 tentang perkawinan). Walaupun undang-unfang tidak menganggap mereka yang di atas 16 tahun (untuk wanita) dan 19 tahun (untuk lakai-laki) sebagai bukan anak-anak lagi, tetapi mereka juga belum dapat dianggap sebagai dewasa penuh, sehingga masih diperlikan izin orang tua untuk mengawinkan mereka. Waktu antara 16 dan 19 tahun sampai 21 tahun ini dapat disejajarkan dengan pengertian-pengertian remaja dalam ilmu-ilmu social lain.
2. remaja menurut PBB
PBB adalah organisasi yang dibawahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan bertugas di bagian keshatan. Menurut PBB, remaja adalah individu yang memiliki usia antara 10 – 22 tahun. PBB menyatakan batasan usia tersebut baik bagi wanita maupun laki-laki walaupun defenisi tersebut didasarkan pada usia kesuburab wanita.
PBB membagi kurung usia remaja dalam dua bagian, yaitu remaja awal 10 – 14 tahu, dan remaja akhir 15 – 20 tahun.
3. Defenisi remaja dalam masyarakat Indonesia
Menurut Sarwono (1991), tidak ada profit remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasioanl. Hal ini disebabkan karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang tentu saja memiliki adat yang berbeda-beda. Begitupun dengan status social-ekonomi serta pendidikan.
Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah. Hal ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
- Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai Nampak
- Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun dianggap telah balik, baik menurut agama dan adat, sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak (criteria sosoal)
- Batasan usia 24 tahun erupakan batasan maksimal, yaitu untuk member peluang bagi mereka yang sampai pada usia tersbut masih menggantugkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa secara tradisi.
- Yang terakhir adalah status perkawinan. Status perkawinan di Indonesia sangat menentukan, hal ini disebabkan arti perkawinan di masyarakat Indonesia masih sangat penting. Seorang yang telah menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.
Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) mengemukakan bahwa remaja adalah masa awal suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.
B. Klasifikasi Remaja
Yang dikatakan remaja, dipandang dari segi usia adalah anak usia sekitar 11 – 12 tahun hingga usia sekitar 20 tahun. Berikut ini adalah klasifikasi remaja berdasarkan tahap-tahap usia yang dialuinya.
- Usia sekitar 12 – 14 tahun. Pada tahap ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan diri secara jasmaniah. Biasanya yang menjadi masalah adalah dia tidak menyukai bagian-bagian tubuhnya atau dia tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Kegagalan untuk bisa menerima diri secara fisik, bisa membuahkan kekurangpercayaan diri.
- Usia sekitar 15 – 18 tahun. Pada usia ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan lingkungan teman-temannya terhadap dirinya ini. Apakah teman-temannya bisa menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam kelompok mereka. Ini sering kali menjadi dilema buat orang tua, karena adakalanya kelompok anak akan memaksakan seorang anak melakukan hal-hal yang tidak setujui oleh orang tua. Orang tua harus berhati-hati dalam merespon hal ini, adakalanya orang tua terlalu terburu-buru memisahkan anak dari lingkungannya sehingga anak itu tidak pernah benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada anak yang justru kebalikannya terjun masuk ke dalam kelompoknya dan menanggalkan nilai-nilai supaya teman-teman bisa menerimanya.
- Usia 19 tahun hingga 20 atau 21 tahun. Ini memang sudah tumpang tindih dengan tahapan dewasa awal, sebab memang transisinya masuk ke tahapan dewasa awal. Pergumulan remaja pada tahap ini berkisar pada kemampuan pribadinya membangun karier. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi pergumulannya adalah mampukah saya masuk ke sekolah tertentu, mampukah saya masuk ke jurusan yang saya inginkan. Atau kalau dia ingin bekerja, mampukah saya memulai pekerjaan saya, mampu tidak saya meniti karier saya. Pada tahap ini ada dua kata yang dihadapi oeh remaja yaitu kata kemampuan dan kesempatan. Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dan tidak seorang pun mempunyai kesempatan yang sama. Kemungkinan-krmungkinan ini bisa menjadi factor penghambat sehingga remaja mendapatkan jalan buntu dalam proses pengambilan keputusan.
C. karakteristik Remaja
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. tubuhnya kelihatan sudah dewasa, akan tetapi bila ia diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada sering trerlihat cirri-ciri yakni kegelisahan, pertentangan, berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang baru, keinginan menjelajah alam sekitar yang lebih luas, menghayal dan berfantasi, aktivitas berkelompok.
Cirri-ciri lain tang dimiliki oleh seorang remaja antara lain adalah:
Ä Secara fisik anak remaja sudah mengalami beberapa perubahan hormonal misalkan munculnya hormon-hormon seksual yang membuat mereka itu menjadi manusia yang harus bergulat dengan gejolak seksualnya.
Ä Mereka makin dewasa pola pikirnya walaupun belum sepenuhnya, pola pikir ini membuat mereka mempertanyakan nilai-nilai yang mereka telah anut sebelumnya.
Ä Para remaja juga mudah sekali mengikuti trend, mengikuti apa yang sedang ‘in’ di kalangan mereka. Hal ini sesuai dengan sifat dan karakter mereka sebagai remaja yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua.
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Hal ini terliahat dari meningginya emosi terutama karena mereka berada dibawah tekanan social dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa tekanan ini, namun benar bila sebagian remaja mengalami ketidkastabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola dan harapan baru social.
Pola yang dihadapi pada masa remaja adalah pola emosi yang secara normal jenis-jenis emosi yang dihadapi remaja adalah:
1. Cinta/ kasih sayang
Factor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya dan mendapatan cinta orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama dengan kemampuan memberinya
Walaupun remaja bergerak ke dunia yang luas, dalam dirinya masih ada sifat kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih sayang dirumah, sama banyaknya dengan apa yang mereka alami tahun-tahun sebelumnya. Nampaknya tidak ada manusia, juga remaja yang hidup bahagia dan sehat tanpa cinta dari orang lain termasuk lawan jenisnya. Walaupun kebutuhan untuk member dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan perasaan itu disembunykan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan memunyai sikap permusuhan biasanya dilandasi oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari
2. Gembira
Perasaan gembira dari remaja tidak banyak diteliti daripada perasaan-perasaan lain seperti marah dan takut, serta problema lain yang memanyulkan kesedihan. Bila segala sesuatunya berlangsung baik lmaka remaja mengalalmi kegembiraan, demikian pula saat dierima menjadi sahabat, bila ia jatuh cinta, dan cintanya diterima.
3. Kemarahan dan permusuhan
Rasa marah merupakan perasaan penting diantara emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan kepribadian. Dimasa remaja banyak fase yang telah dilaluidalam perkembangan termasuk dengan hal yang membuat ia marah dan cara menyatakan marah itu. Kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa perubahan sehubungan dengan umurnya dalam kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan rasa marah. Banyaknya hambatan yang mnyebabkan remaja kehilangan kendali terhadap rasa marahnya, mempunyai sedikit pengaruh pada remaja, tetapi rasa marahnya terus berlanjut pemunculannya apabila minat-minatnya, rencana-rencanya, tindakan-tindakannya dirintangi.
4. Ketakutan dan kecemasan
Menjelang anak mendekati masa remaja dia telah mengalami serangkaian perkembangan yang panjang yang mempengaruhi pasang surut dari rasa ketakutan. Bebrapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih tetp ada. Bahkan banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri. beberapa orang diantara mereka merasa takut pada saat dalam bahaya, dan yang lain merasa takut secara berulang-ulang dengan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, atau karean mimpi-mimpi, bahkan karena pikiran-pikiran mereka sendiri.
Adapun karakteristik remaja yang sering sekali menimbulkan masalah bisa muncul karena disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
- Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
- Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
- Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
- Teman sebaya yang kurang baik
- Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
D. Peranan Orang Tua
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan member lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua.Peran yang seharusnya dilakukan oleh orang tua adalah:
F Orang tua harus mengenal anaknya dengan baik, sehingga dia bisa melihat anaknya itu dengan tepat. Kemampuannya apa yang dimiliki oleh anaknya, dan arahan apa yang seharusnya dilakukan agar kemampuannya tersebut dapat tersalurkan
F Orang tua harus memiliki hubungan yang baik dengan anak, ini penting sekali sebab mustahil anak mendengar orang tua kalau hubungannya dengan orang tua buruk. Hubungan yang baik juga adalah wadah di mana anak lebih berani untuk mengemukakan segala permasalahannya
Dari uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang terjadi dengan orang tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan oleh Santrock, (2002: 24) yaitu :
Ü menetapkan aturan-aturan dasar bagi pemecahan konflik.
Ü Mencoba mencapai suatu pemahaman timbale balik.
Ü Mencoba melakukan corah pendapat (brainstorming).
Ü Mencoba bersepakat tentang satu atau lebih pemecahan masalah.
Ü Menulis kesepakatan.
Ü Menetapkan waktu bagi suatu tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah dicapai.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Al-Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: Pustaka Setia Bandung.
Daruma, A. Razak., Samad, Sulaiman., & Mustafa. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Makassar: PENERBIT FIP – UNM.
Sumber WEB:
Arya. 2009. Karakteristik Remaja .From: http://belajarpsikologi.com/karakteristik-remaja/ . 4 Desember 2010.
Mostafa Nasiri. 2009. Kiat Memahami Gejolak Pikiran Remaja. From: http://taghrib.ir/indonesia/index.php?option=com_content&view=article&id=105%3Akiat-memahami-gejolak-pikiran-remaja-&catid=62%3Asayere-mozuat&Itemid=86 . 4 desember 2010.
Pdt. Dr. Paul Gunadi . 2008. Gejolak Pertumbuhan Remaja. From: http://www.telaga.org/audio/gejolak_pertumbuhan_remaja_2. 4 Desember 2010.